Perjalanan Menjemput Maut ke Rinjani…

  • Pagi itu kami terbangun dari mimpi panjang nan dingin di “pos kamling” sembalun. Lembah Rinjani. Sarapan telah melambai membuat perut kami terkoyk. Warung Segara Anak. Nama warung itu. Tergambarkan Danau Segara Anak di baliho terima pesan antar. Es jeruk hangat 2 pak “pekik ku pada empunya warung. Memecah kehangatan pagi. Mentari mulai menelisik di tengah lubang jendela. Suara lauk pauk yang saling bersaut ditambah lalu lalang bau wangi ikan asin yang semerbak, membuat musik keroncong perut kami semakin liar. Tak perlu. Tak perlu butuh waktu lama untuk melahap yang telah tersaji depan mata. “Saya porsi separo saja pak”, nampak porsi penuh terlalu menyiksa perut yang akan kami bawa mendaki juara runner up olimpiade gunung tertinggi ini.
  • Es Teh Double Jumblo Mbak Maya Punya

    Es Teh Double Jumblo Mbak Maya Punya

  • Detik jam dinding menunjuk angka sembilan. Ayo Berangkat! ujar Belen. Sebagai pendaki ulung, dia memimpin perjalanan menjemput kematian ini. Siap. Pekik kami. Lensa mulai membuka, sebagai oleh oleh kami pulang kembali ke Surabaya. Ya. Oleh oleh paling amazing adalah foto dan cerita. Karena dua hal itulah yang mengabadikan perjalanan kita melawan maut. Mencari arti kehidupan. Mengenal diri lebih dalam.
  • Pimpim. Pimpim.. Suara mobil pick up mengantar kami menuju starting point pendakian Rinjani. Jalan berbatu terjal sudah menjadi bagian tak asing dengan goncangan poco-poco pick up yang kami tumpangi. Lumayan. Potong kompas perjalanan satu jam jalan kaki. Jalan setapak terpecah dua. Kanan dan kiri. Leader kami. Belen. Mengambil jalan kiri. Kami membuntuti dia sambil jeprat jepret pemandangan savana tak terbatas seperti wallpaper windows 98. Indah. Maha Karya Yang Maha Kuasa.
    Bukit landai dengan tanjakan mini mengawali langkah awal kami. Hati riang rindu bertemu dewi anjani semakin membuncah melihat puncak Rinjani dari telapak kakinya. Itu. Itulah tujuan kami kesini. Menjemput maut. Menuju Surga Dunia. Puncak Rinjani 3726 mdpl.

Menjemput Maut, Menuju Surga Dunia. Puncak Rinjani

Menjemput Maut, Menuju Surga Dunia. Puncak Rinjani

  • Langkah kaki kami bergerak gesit mengayun ke kanan kiri menyisir jalur landai berkelok kelok, menyingkap bukit demi bukit. Menikmati indahnya lari dari kenyataan. lari dari rutinitas, lari dari kemonotonan hidup. Mencari jati diri. Menorehkan tinta sejarah pribadi. Mencapai puncak sejati. 3 jam sudah kami berjalan. Pos 1 mulai berteriak memanggil kami. Nampak bule kelelahan bersandar pada pilar pondok yang mirip poskamling ini. Warna hijau mengajarkan kami arti penting menjaga alam ini. Bersahabat dengannya niscaya mereka akan bersahabat dengan kita. Kami terasa kecil ketika berada di alam. Dari semesta. Kami belajar persahabatan dan simbiosis mutualisme.
  • Ransel mulai merumput. Kaki menjejak bebatuan. Pantat mulai menjejal rerumputan. Setitik air mineral melepas dahaga kami. Ini masih awal perjalanan. Ya. Awal. Seribu langkah mungkin sudah kami tempuh. Beribu-ribu langkah mungkin akan menapak tilas coretan sejarah kami. Ini salah satu ekspedisi terbesar dalam hidupku. Setelah 9 kali menapakkan kaki di puncak kawah ijen, sekali di gunung remuk, gunung panderman, dan di puncak Penanggungan. Pendakian terakhirlah yang berhasil membuatku terkena penyakit baru dalam sejarah medis. Gagal Dengkul. Dengan ketinggian kurang lebih 1600an mdpl, kaki terseok menuruni terjalnya gunung Penanggungan. Es jeruk adalah motivasi terbesar sebagai pemompa semngat menuruni tanjakan turunan menuju pos pemberangkatan. “Dengkul” inipun sudah tak mampu berkontraksi lagi. Selangkah demi langkah menjejal bebatuan layaknya langkah robot. Aku takluk. Seperti kematian sudah di depan mata. Dan di tengah perjalanan, saya berjanji tak akan mendaki lagi.
  • Tetapi. Ego ini masih tak mau kalah. Ego lah yang membawaku kembali menjemput kematian menjejakkan jemari kaki ke gunung berapi tertinggi kedua di negeri ini. Puncak Rinjani. 3726 mdpl jelas bukan hal mudah. Rinjani masih menunjukkan kegagahannya. Berdiri tegap di antara kaki kakinya. Diselimuti savana dan pepohonan berdaun jarum, menambah ketangguhan Rinjani.
  • Satu-persatu ransel berkilo-kilo mulai melompat ke punggung nan renta. Pinggul tak henti-hentinya menangkap bawah ransel. Membantu punggung mengurangi beban penderitaan pundak. Semua bersatu guyup rukun. Tanganpun menarik tali depan ransel agar senantiasa pada tempatnya. Handuk melepaskan peluh di dahi. Keringat mengucur deras. Kini kita trekking di tengah siang bolong. Menuju pos 2 yang katanya “hanya” satu jam porter, yang artinya bisa 2-3 jam kami. Jalan tertatih menyusur bukit demi bukit tanpa peneduh. Nampaknya pepohonan pun enggan berpanas-panasan di savana ini. Bayangkan ketika panas mentari berada lebih dekat dengan kepala, bukan karena dia yang mendekati kami, tapi kit lah yang “sombong” mendekati dia, menuju “kediamannya” semakin naik angka altimeter, semakin tersengatlah kami dibuatnya. Sunblok pun kami tak bawa. Hanya berbekal topi, jaket, sarung tangan dan sepatu kami menyambangi dewi anjani. Mungkin jika kami mengadu dan mengeluh pada dewi Anjani, kita akan diusir mentah-mentah. Berbekal semangat kami berkunjung ke Dewi Anjani.
  • 200 menit sudah kami melangkah. Entah berapa ketinggian yang telah kami daki. Panas tak kunjung tertutup awan. Hamparan rumput juga masih setia menemani kami. Kentang dan Klembon menjadi camilan kami dalam perjalanan yang tak tahu dimana akhirnya. Perut kami mulai keroncongan. Kaos pun bisa digunakan untuk menyirami tanaman. Saking penuh peluh dan keringat. Pos 2 sudah mulai nampak di balik jembatan, berjubel-jubel pendaki beristirahat di bawah pohon diatas jembatan. Kebetulan dibawah jembatan ini ada semacam sumber yang lebih mirip dengan genangan air hujan. Kami melakukan shalat jamak disana. Duhur dan ashar.
  • ~&&~
  • Sebagai musafir, kami mendapatkan keringanan untuk menjamak shalat kami. Perjalanan menjemput kematian ini semakin mendekatkan diri kita pada alam dan sang Pencipta. Takjub rasanya melihat keindahan lukisan alam. Tak ada duanya. Maha Karya Sang Pencipta Kehidupan.
  • ~&&~
  • Pesona Rinjani telah tersohor di seantero dunia. Bahkan lebih banyak bule yang mendaki daripada pendaki domestik dan amatiran seperti kami. Kami pun seperti warga asing yang sedang mendaki di luar negeri. Bule asinglah yang nampak seperti warga lokal. Saking lebih banyaknya jumlah mereka dibandingkan wisatawan domestik seperti kami. Seperti halnya di legian dan kuta, Bali. Seperti bukan Indonesia. Seperti di Eropa dan Amerika.
    Jedyarrr!! Lamunan ikan bakar pantai bali menyelinap dalam laparnya perut kami.
  • Badanku terhempas dalam rerumputan. Haus.. Haus.. Lapar.. Lapar.. Perjalanan menuju Pos 3 begitu lama. Sampai tak ingat lagi sudah berapa bukit yang kami belakangi. Aku menunggu mbak nani yang membawa kentang dan kue basah. Tak ada waktu untuk masak. Logistik hanya untuk di atas. Perjalanan masih panjang. 5 hari itinerary yang telah dibuat untuk ekspedisi Rinjani ini. Glek glek glek. Air segar mengalir menyusuri gua tenggorokan. Membantu mengangkut makanan yang macet di mulut. Membersihkan celah-celah gigi dari sisa camilan yang sungguh tiada duanya. Berada di gunung tak ada kamus tak enak. Grade makanan hanya dua. Enak dan Sangat Enak.
  • Badan yang letih, kaki yang pegal, pundak yang semakin mencekung, panggul yang semakin rata dengan paha. Otak sudah tak sanggup lagi berfikir selain. Ayo sedikit lagi. Ayo kaki, kuatkan dirimu. Melangkah sedikit demi sedikit. Anto, Belen, dan Deni sudah berada jauh di depan kami. Lebih dahulu mencari pos selanjutnya. Sudah 5 jam lebih kami berjalan. Tak ada tanda-tanda untuk berakhir. “Masih Kuat?” Ujar mas zaki. “Ayo berangkat” ujar mbak maya. Sambil menunduk, kami tak mampu lagi memandang bukit berbukit yang mulai menanjak. Turunan pun semakin curam. Menandakan akan membuncahkan rasa stress dan frustasi untuk menaikinya lagi. Menuju bukit berikutnya.
  • “Masih lama pak pos selanjutnya?” Tanya mbak nani pada porter. “Sedikit lagi dek, mungkin 45 menit lagi” jawab porter. 45 menit porter sama dengan 90 menit kami. Bahkan lebih. Lakunya yang cepat dan gesit meski beban yang dipikul lebih berat, mereka sangat bergegas baik mendaki maupun menuruni gunung ini. Rinjani memang cocok bagi kami “anak-anak” yang mencari mati, “setor nyawa” pada alam. Memilih bersusah payah berpetualang daripada duduk manis di pojok kamar.
  • ~&&~
    Kami tergabung dalam BackpakerIndonesia.com Regional Surabaya. Memiliki minat yang sama untuk melakukan perjalanan baik ke kota, pantai, atau pendakian gunung seperti ini. Kesamaan hobi inilah yang menyatukan kami. Menjalin persahabatan dan membuat keluarga baru di tanah rantau. Surabaya. Banyak anggota dari komunitas ini yang belajar/kuliah dan kerja di kota metropolitan, dan berasal dari berbagai daerah. Mengadu nasib dalam bertahan hidup. Mencari ilmu untuk melunakkan kerasnya dunia. Melanglang dunia mungkin adalah rata-rata cita kami.
    ~&&~
    Di ujung bukit, Anto dan Deni berteriak teriak seperti mencela kami. Mengejek dan menyemangati memang beda tipis. “Ayo Pak Bondan! Ayo May! Ayo Vau! Kalian pasti bisa.. Sini cepet! Kita udah nyampe Pos Ekstra! *teriak Anto dan Andre* . Hahh?!? Pos Ekstra? *celoteh mbak Nani. “Jadi sejauh ini masih nympe Pos Ekstra?” Sambungku.
    Waktu sudah menunjukkan pukul 15.40. Kami beristirahat di pos yang lumayan bagus. Merenung. Terdiam. Melihat sekeliling. Ada toilet berwarna hijau. Bangunan terdiri dari semacam besi dan aluminium/seng. Pondok tampak masih baru, atap lama diganti dengan yang baru. Catnya pun masih gress. Sisa seng tak berguna digeletakkan begitu saja di belakang pondok. Tiba-tiba terpikir hal yang aneh. Siapa yang membangun Pos Ekstra ini? Terkelebat bayangan porter membawa kayu-kayu dan seng, dari bawah hingga sejauh ini. Terima kasih Porter!
    Makanan mulai dikeluarkan. Roti tawar terbelai susu coklat, memanjakan lidah di tengah gunung. Nikmatnya tak terkira. Apalagi rotinya dibakar terlebih dulu. Roti bakar mbak nani adalah yang istimewa. Menghalau dinginnya pegunungan, menggoyang lidah, menutup konser jazz perut dengan indah.
    Adem sari ternyata menjadi primadona “beverages” pendaki amatir ini. Bibir yang udah mulai berganti kulit, mendapat ramuan ajaib dari minuman ini. Segar membahana.
    Perjalanan dilanjutkan. Pundak yang terus menerus meraung sudah mulai diacuhkan. Pikiran hanya satu. Puncak! Jalan dan terus jalan. Sedikit demi sedikit, lama lama bukit abis. Itu motivasiku saat itu. Ternyata hanya 1 jam, kita sudah sampai di Pos 3. Di pos ini banyak pendaki yang beristirahat. Mereka telah dari puncak, dan bergerak turun. Sedangkan kami sebaliknya. Aku, Vau dan Anto bertugas mengambil air di sumber. Ternyata untuk mendapatkan air, kita harus mengeruk tanahnya dulu, kemudian blaarrr.. Serrr.. Air keluar dari dalam tanah. Ajaib! Hanya menggali sejengkal tanah, Air sudah keluar. Kami menanti air keruh mengendap tergantikan air yang jernih siap minum. Segarrr.. 4 Botol air minum kapasitas 1,5 L mulai dimasukkan dalam ransel-ransel besar. Air ini harus cukup sampai pelawangan sembalun!

    Air Mineral Asli Rinjani

    Air Mineral Asli Rinjani

    Bukit Penyiksaan. 
    Mendengar namanya saja sudah bergidik. Siapa orang yang ingin hidupnya tersiksa? Siapa yang mau menyiksa hidupnya sendiri?
    Bukit Penyesalan.
    Mendengar kata ini? Bagaimana perasaanmu? Penyesalan selalu di akhir. Mungkin kita sering menyesal ketika hal tersebut sudah terjadi. Artinya? Selalu ada hal buruk yang membuat kita menyesal pada akhirnya.
    Mendengar 2 kata itu, pilih mana? Tersiksa apa menyesal?
    Tentu mungkin saja kita tak memilih keduanya. Kita kesini untuk bersenang senang. Menikmati hidup. Bukan untuk menyiksa diri dan menyesal.
    Tak ada jalan lain. Tak bisa memilih. Kadang hidup benar-benar tak memberi pilihan. Kita hanya perlu menerima dan menjalaninya. Jembatan menuju bukit penyesalan roboh. Tak bisa dilewati. Nampak kejauhan trek bukit penyesalan menarik garis S. Kelihatan landai menanjak. Tapi tak separah bukit penyiksaan. Kita tak berani memandang bukit penyiksaan. Batu terjal menukik menyambut kami. Ini baru gunung! Ujarku. Sambil terengah-engah, menggendong ransel, menapak bebatuan lancip, memandang 70 derajat perjalanan. Membuatku jalan merangkak. Tak kuat lagi pelana ini berjalan tegak. Engsel kaki rasanya mau copot. Oh Tuhan.. Ini benar-benar menyiksa. Perut mual karena dekatnya pusar dengan tanah. Hawa dingin mulai merangsek masuk sel-sel darah merah. Mbak maya di belakang sudah berpegangan pohon, tangan memegang perut. Pandangan merunduk. Mual. Muntah. Namun tak ada yang keluar dari mulut. Perut sedari sarapan hingga jam 8 malam ini belum terisi nasi sama sekali. Sangat memungkinkan jika badan tak tahan lapar. Vau mencoba terus merayap di keheningan malam. Ditemani bulan purnama, tak perlu lagi memakai headlamp dan senter powerbank! Semua sudah kelihatan. Anto dan Belen sudah jauh di depan. Lampu kerlap-kerlip headlamp nampak seperti bintang di kejauhan. Disana! Ya disana! Sudah dekat. Pelawangan sembalun seperti seorang perempuan yang memberi harapan palsu pada gebetan. Dan sebaliknya. Mimpi hanyalah mimpi. Mimpi bahwa ini bukit terakhir terludahkan begitu saja setelah mencapai puncak, dan ternyata masih ada bukit yang lebih tinggi. Semua tertegun. Lelah. Lapar. Lemas. Letih. Lesu. Stress. Frustasi. Semua jadi satu. Tumplek blek. Kita duduk selonjor di depan bekas api unggun entah siapa. Api yang hampir meredup, berhasil kita nyalakan kembali. Madu ditangan berhasil dilumat dengan mudah oleh bibir yang telah ransum. Dilipat oleh dinginnya malam. Madurasa menjadi supplier glukosa yang canggih. Perut rasanya sudah tak mampu menampung air mineral lagi. Terisi sedikit saja sudah mual. Roti pun tak mampu mengganjal perut ini. Oh Rinjani. Darah sudah di titik nadir. Inilah jalan menjemput maut. Menuju surga dunia. Puncak Rinjani.
    Negeri atas awan adalah julukan dari gunung ini. Jalan setapak dengan kanan kiri lereng gunung. Jurang kematian. Mengintai setiap nafas yang tak fokus dan hilang konsentrasi. Terperosok sedikit saja dijamin. Dijamin tak bakal ditemukan oleh Tim SAR sekalipun. Wassalam. Pesan terakhirpun mungkin tak sempat terucap. Hanya kenangan dan kebaikan yang akan diingat orang. Jangan sampai pulang tinggal nama.
    Tak tahu kenapa, melihat bukit yang tak habis habis. Penyiksaan paralel. Kaki tetiba seperti kerasukan. Langkah semakin cepat. Badan semakin tegap. Ransel pun seperti tak ada isi. Jalan cepat meransek lebatnya rerumputan jalan setapak. Mengikuti halan yang sudah terinjak-injak oleh manusia sebelumnya lebih dulu melaju. Namun apa nyana, kondisi mbak maya semakin lemah, sering berhenti dan mual muntah. Hutan yang lebih lebat sudah di depan mata. Aku berhenti di pohon tumbang. Sekedar melepas penat yang tak terkira. Baru kali ini aku mendaki dengan rasa bosan sebosan bosannya. Entah mengapa. Sudah tak ada ekspektasi lagi di tahap ini. Otak sudah kosong. Menjadi malas untuk berpikir berapa bukit lagi. Jalan, jalan, dan terus berjalan. Hanya itu yang terlintas di pikiran. Tak ada harapan. Tak ada lagi kebahagiaan mencapai puncak. Frustasi tingkat bidadari.
    Setiba di bukit lebat depan mata tadi, mata sudah berkunang kunang. Tak sanggup lagi kaki melangkah. Duduk dan berbaring adalah ide yang brilian. Di belakang, mbak maya sudah lemas letih mual muntah, bukit ini memiliki kemiringan sekitar 45 derajat. Kondisi fisik yang tak memungkinkan memaksa kita mendirikan tenda di kemiringan yang tak semestinya. Apa boleh buat. Tenda beres. Nasting kita keluarkan. Mie instan menjadi andalan di saat darurat. Satu dua sendok mie sudah cukup mengisi absensi karbohidrat dalam lambung. Perut kenyang, mata dan punggung sudah meliuk liuk ingin bersatu dengan sleeping bag. Meskipun tidur dengan kondisi miring 45 derajat. Dengan tenda kapasitas 2 orang diisi 3 orang, kami berenam lelap tidur. Benel dan Anto sudah ditelpon sebelumnya bahwa kami tak melanjutkan perjalanan lagi, sudah tak sanggup awak mendaki lagi. Malam menunjukkan pukul 23.00 WITA. Pantas saja kita sudah lemah, trekking mulai pukul 09.00 hingga 23.00 adalah melebihi ambang batas normal kerja tubuh. 14 Jam perjalanan bukan waktu yang singkat dengan kondisi jalan yang super combo mantap tanpa paket hemat.
    Dan kami tertidur pulas hingga mentari menyeruak memberi ucapan selamat pagi dari balik cover tenda.
    Show must be go on!

    Camp Darurat 45 Derajat

    Camp Darurat 45 Derajat

    Jam 8 pagi kita telah segar bugar siap melanjutkan misi hidup yang semalam tertunda. Camping ground pelawangan sembalun.
    Melihat trek yang harus kita lalui, kami bersyukur dengan keputusan semalam. Trek lebih curam dan susah. Banyak pendaki lain yang harus turun dengan (maaf) pantat terlebih dahulu. Prosotan. Gunung menjadi wahana semacam waterboom yang sangat berbahaya dan tidak bisa dicoba di rumah. Salah sedikit saja bisa fatal. Akhirnya, Belen dan Anto sudah mulai terlihat.
  • “Woy.. Woy!! Sini.. Ayo!! Kamu bisa!!”, Teriak Anto di Pelawangan Sembalun. Mereka lebih beruntung tiba sejak malam. Angin kencang menggoncang tenda, pemandangan depan Danau Segara Anak sudah siap untuk dijadikan ajang Olimpiade Renang Dunia Akhirat.
    Tak lama kemudian, akhirnya kami tiba di Pelawangan sembalun. Melihat Danau Segara Anak. Sungguh. Pesona Indonesia. Ternyata, tak perlu “MATI” sungguhan untuk melihat SURGA. SURGA itu NYATA. Aku semakin cinta indonesia. Pesonamu menghapuskan segala duka lara, perasaan senang yang membuncah menyelusup dalam lensa-lensa kamera. Kami abadikan moment bahagia itu dalam sebuah bingkai cerita.

    Surga Dunia ada di Puncak Rinjani. Segoro Anakan.

    Surga Dunia ada di Puncak Rinjani. Segoro Anakan.

    Angin bertiup begitu kencang, tak ada penghalang dan hambatan. Akhirnya kami pun “move on” ke tempat yang lebih aman. “Lihat itu” Belen menunjuk caping ground persis di bawah jalan menuju Puncak Rinjani. 3 Bukit lagi. Keluh kesah telah hilang. Terbayar sudah semua penyiksaan. Tawa bahagia menyatu menjadi satu. Kita berada di titik sekitar 2650 mdpl.
    Rinjani. I LOVE YOU!
    Serial selanjutnya bercerita MENJEMPUT MAUT #2. BERHADIAH SURGA. Puncak Rinjani 3726 mdpl. Puncak yang sesungguhnya.
    Stay tune yah :))
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s