Perjalanan Seru ke Dewi Rinjani …

Sesampai di bandara lombok, kita foto2an dulu :)) biasa, backpalayers masih hidup jaman sekarang. Gak bisa bawa pesawatnya, yaudah bawa fotonya aja. Kemudian ambil bagasi, nyampe depan bandara (aku kira) kita disambut layaknya selebitwit.. Dan ternyata benar.. Kita disambut oleh Cak/Kang/Mas/Om Ahim. Beliaulah yang akan membawa kita ke dunia persilatan penentuan hidup dan matiku melawan ketangguhan rinjani. Runner up olimpiade tinggi-tinggian gunung berapi di indonesia. Dengan kuda grand max nya, kita sampai lah.. Taraaaa.. Mataram Mall. Yes. Kita nyampe lombok! Beliau banyak bercerita tentang lombok saat kami tertidur lelap. ZzZzzZz.. Hanya si Vau yang masih hidup di depan. Kami dengar mereka sudah mulai menyambung ke percakapan yang lebih serius.. Bisnis design grafis! Laaahh.. Mana cerita lomboknya broooo?? / Santai sob.. Santai.. Perut gue masih laper nih..

Nyampe Mataram Mall kita berpesta. Melihat modernisme Lombok. Keliling mall dan sekitar mall, Minimarket dan Hipermarket kita jelajahin. / Laaah.. Ini ke gunung apa jalan2 ke Mall broo? Ngapain jauh2 ke Lombok kalo cuma nge-Mall doang? Di Surabaya juga banyak.. Yang lebih besar juga bejibun. Apalagi sekarang juga lagi ada olimpiade gedhe-gedhe-an Mall. Yang saat ini masih dipegang oleh Tunjungan Plaza. Yang masuk Mall aja, pulang-pulang udah kayak jalan kaki Surabaya-Banyuwangi. Saking gedhe nya Mall ini. Dan itupun masih mau dibangun lagi *Ampuuunnn dijeehh*

Brooo.. Rinjani mana broo.. Rinjani.. *DemoPembacaBlogIni*

Tenang. Justru ini penting bro.. Lu mau belanja dimana kalo di kaki Gunung Rinjani, jam 12 malem kagak ada toko penduduk yang terlengkap dan termurah buka broo.. Kagak ada indo*mart alfa*mart buka cabang di sembalun broo.. Apalagi Mall..

Abis shalat isya, mbak maya dan mbak nani –Calon chef dan ibu rumah tangga– dan maz zaki –calon penasehat chef dan bapak rumah tangga– mulai bertarung menyusun strategi. Belanja apa aja ya??? Selagi mereka masuk padepokan logistik, kita sisanya –calon anak2 mereka– mulai bergerilya mencari makan! Nasi padang, nasi sayur, ayam bakar, ayam panggang, nasi kuning, akhirnya gak nafsu makan. / “mas ahim, makanan khas disini apa??” / “Ayam Taliwang mas!” Jawab mas ahim. Tunjukkan kami jalan yang benar mas!! Tunjukkan!! Tunjukkan!! Dari pengembaraan kita, mulai dari terang bulan, udang goreng, sari laut, semua lewaaat.. Ketemulah dengan si kuliner khas lombok ini. AYAM TALIWANG.

Dalam kondisi kelaparan tingkat dewa, kami pesan satu potong ayam taliwang. Per anak satu potong. Utuh. Tanpa dipotong-potong lagi. Tanpa disunat seperti birokrasi kita. Ekspektasi kita yang menganggap seperti di jawa, yang makan ayam ditawari dulu oleh kasir yang merangkap pramusaji di resto fastfood, yang kebanyakan cewek, dan biasanya cantik-cantik, sering menanyakan hal yang sangat bikin kita merangsang. PAHA apa DADA mas? / apa mbak??? / PAHA apa DADA mas? / sambil melihat atas dan bawah mbak pramusaji, langsung saja kita berseloroh. DADA MBAK! DADA MBAK! *usia 18+* mbak nya dengan senyum manis elegan menanggapi / tunggu sebentar ya mas *kedipmanja* kemudian dia berbalik badan. Sambil mengusap ngusap tangan sendiri, jantung berdetak kencang. Ketegangan terjadi di sekujur tubuh / mbaknya berbalik mau apa? Jangan buka disini mbak.. Jangaaaaannnn.. / *hayooo bayangan kalian apaaaa??* insaf bro!! Tobat! Nyebut.. Nyebut.. / Lamunan buyar dengan Dada Ayam sudah di depan mata* ini mas.. / Loh mbak, tadi kan saya pesan DADA MBAK, bukan DADA AYAM* #kemudianhening –pertanyaan terakhir tak pernah terucap meski sudah puluhan kali memesan makanan di resto fast food–

Kemudian pelayan warung kaki lima itu datang membawa sesuap nasi, seekor ayam taliwang yang sudah dibumbu kecap. Dari kejauhan menatap mata ayam ini pun, lidah sudah menari-nari. Ayam.. Sini kau.. Mari aku emut kau.. Aku nikmatin kau.. Si ayam pun pasrah.. Tulang belulang mulai aku patahin satu persatu.. / mana dagiingnyaaaaa???!!! / ayamnya kurus bro.. Kek ayam kate dipanggang.. Ayam mati ini bray! Hah??!! / iya.. Kalo gak mati, gimana masaknya??!! / Sialan!

Kemudian dateng plecing kingkong. Eh kangkung dengan taburan kelapa dan kacang goreng di atasnya.. Omaigatttt.. Terong pun bernyanyi di atas meja.. Merayuku untuk menggrepe dia.. Uh ah uh! Suara teman2 kepedesan. Sambel dikasih 2 macam. Satu taraf newbie, yang kedua taraf advance. Mencoba keduanya sangat diperkenankan meskipun kalian kaum menengah metropolitan. Lantas, es jeruk datang menyongsong musim kemarau di tenggorokan kita. Maijon mas maijon.. Cidi mas Cidi.. Kotak amal mas.. Kotak amal.. Uang receh mas.. Uang receh.. –makan pinggir jalan emang full fasilitas– kemudian kita disuguhkan sang maestro mendownload gitarnya, dan mengupload suara merdunya ke udara.. Kita makan Ayam Taliwang terenak no.3 di dunia. Dengan music house dari pengamen jalanan. Oh nikmatnya. Setelah komentar-komentar dan pertanyaan saya mendetail tentang kuliner lombok, saya dipanggil dengan nama Pak Bondan *yes bisa icip makanan teman2*

Kemudian datenglah calon bapak dan ibu rumah tangga –poligami mas zaki antara mbak maya, mbak nani– dengan wajah kelaparan setelah berguru di padepokan logistik.

Mas.. Es tehh jumbo 2 “pinta mbak maya ke pelanggan” / mbak-mbak.. Masih sadar mbak? / usut punya usut, ternyata beliau emang punya punuk, untuk menyimpan air selama seminggu.
“Makan apa? Makan apa?” Ribet mbak nani tanya sambil mengambil ayam ayam kita yang kita pun ampun-ampunan untuk menghabiskannya.
“Ayam Taliwang 3 bu, es jeruk 2″ ujar mas zaki. Calon poligamer. Hahhh?? Kita berlima, Ayam 4 ekor aja udah kagak kuat? Gimana ini bertiga, tiga ekor ayam utuh! *geleng2 kaki* –Hasil reportase investigasi, mereka bertiga ternyata punya ransel di dalam perut untuk menyimpan makanan selama 3 tahun!. Anda percaya? Saya tidak!– Ajaibnya, abis bro.. Abis.. Bersih.. Kagak usah dicuci dah piringnya. Bersih.. Emang bapak dan ibu yang baik mereka.

Berjalan sambil kekenyangan ke mobil, kita disambit ayam taliwang oleh ibu empunya warung. Bayar woy!! Bayar!! Ooo iya bu.. Bendahara umum kita (mbak maya.red) mulai mengeluarkan jurus2nya. *mengeluarkan dompet tebal isi bon hutang* / Tukar KTP bisa bu? Ibu warung langsung ngeluarin samurai, mau mati ditusuk apa dipanggang? Iya bu. Iya. Ampuuunnnn. / Mohon bungkuk dong bu.. Buat apa mbak? / Mau gesek kartu kredit bu/ Mbaaaakkk.. Ibu mulai jengkel kemudian mengikat kita di tiang jemuran/ Ampuunn buuu.. *bayar cash se cash cashnya* LUNAS! –paragraf terakhir ini hasil imajinasi khayalan kartun onepiece pemirsa– Cerita asli dirahasiakan. Laaaah??!!??

Setelah makan. Logistik lengkap. Dari lombok utara kita menjelajah lombok tengah, kemudian menyisir lombok barat. Menjemput Belen. Orang / Mahasiswa asli lombok. Dia nunggu di masjid, sebelahnya. Sambil salaman perkenalan, dengan bapaknya juga, kita mulai bongkar tas tas kita untuk dipindahkan ke atas mobil. Layaknya kuli panggul, kita membawa tas tas super berat ke gunung berapi tertinggi no 2 di indonesia. Nomer 1. Di lombok. Selanjutnya di mobil kita tertidur pulas, mas ahim ditemani warga senegaranya ngobrol pake bahasa mereka. Kita roaming. Dan akhirnya terlena dengan alam dan jalanan lombok yang mulus. Hitungan ke 3, Tidur. 1. 2. 3 ! Grojak grojak.. Grojak grojak.. Mobil mulai bergoyang di lereng kaki Rinjani yang jalannya masih eksotis. Jalan berbatu, aspal berlubang disana sini, dengan kelokan tajam dan tanjakan turunan menjadi paket hemat yang lengkap. Ditambah seramnya hutan kanan dan kiri jendela.
Astagfirullah.. Jalannya ancur. Indomart mana indomart? Alfamart mana alfamar? Mall mana Mall.. Timezone mana timezone.. KFC! McD.. Kalian dimana..

Sampai akhirnya kita sampai di desa terakhir, salah satu starting point pendakian semeru. Sembalun. Setiba di pos jam 12 malem. Pos sudah tutup. Penjaga sudah tidur. Ngobrol2 nganan ngiri ngalor ngidul, akhirnya hawa dingin mulai menyerbu pelupuk mata. Akhirnya kita melanjutkan mimpi kita masing2 yang tertunda.

Ambil sleeping bag, flysheet (salah penulisan kayaknya) Tata penempatan tas. Kita tidur di semacam gasebo/poskamling sampai pagi. Mas ahim tidur di mobil.
Perjalanan malam ini usai :))

~~&&~~

Perjalanan bersifat personal, meskipun dilakukan rombongan, pengalaman yang didapatkan pun berbeda, berbanding lurus dengan tingkat “kegilaan” loe saat backpacking. Mencoba hal berbeda, tempat berbeda, menikmati sajian lokal, mengosongkan gelas “ekspektasi” pada tanah “jajahan” baru –penjelajahan identik dengan penjajahan, Belanda berhasil melakukan “discovery” pada kekayaan tanah air kita sehingga mereka melakukan “explorasi” mendalam terhadap bumi Indonesia. Mereka menjelajah negeri ini hingga 350 tahun. Mungkin awalnya mereka hanya berniat untuk “backpacking” ke Indonesia, hanya jalan2 naik cruisher, pesiar. Namun karena keasyikan explorasi, misalkan saja setiap generasi berumur 70 tahun, mungkin mereka disini hingga melahirkan 7 turunan. Tanah kita yang kaya membuat mereka mendaftarkan diri mereka WNI. Mereka bikin e-KTP, dulu pake passport gak ya ke indonesia. Pake visa wisata apa visa kerja ya? Oh mungkin mereka pake visa “belajar” disini. Kebetulan saat itu penduduk lokal Indonesia sangat “eksotis”, sehingga mereka dengan mudah “membodohi” orang2 yg masih buta aksara, sampai mereka berumah tangga disini, beranak pinak, dan “memindahkan” hasil bumi Indonesia ke Belanda, sampai Belanda dari negeri yang gak kaya kaya amat, dan ngutang, menjadi negara yang bebas utang dan kaya raya–

Apakah kita sebagai pejalan/backpacker/traveller/pelancong/piknikers/pengembara/pengelana dll apapun sebutan dan caranya, akan menjadi seperti itu, “penjajahan” masa kini? Penjajahan budaya, penjajahan pemikiran, penjajahan mindset, dan penjajahan apapun bentuk dan modelnya. Penjelajahan memang identik dengan penjajahan. Mungkin jika posisi kita dahulu seperti Belanda, sangat mungkin kita akan melakukan hal yang sama, karena penjelajahan saat itu menjadi mainstream. Setiap negara yang memiliki kekuasaan, modal “bepergian”, melakukan discovery, mencari hal baru di negara baru. Sampai marcopolo, dll pun berlomba keliling dunia. Mengarungi samudra nan luas tak terkira, mendamparkan diri pada pulau luas yang kita kenal dengan benua, jalan-jalan menikmati hidup dan menamai benua tak berpenghuni itu dengan namanya, dll. Begitulah kilas balik traveller jaman dulu, yang mungkin sedikit banyak kita terinspirasi oleh mereka, backpacker/traveller yang sekarang menjadi lifestyle, menjadi hits dan digandrungi semua usia, semua gender, semua bangsa dan negara. Padahal ini adalah trend masa lampau yang dihidupkan lagi oleh para awak media, para travelwriter, para selebritis hingga selebtwit, majalah, tour n travel, dll bahkan kementrian kebudayaan dan pariwisata hingga menteri ekonomi kreatif turut serta dalam membuat hal ini menjadi trending topic dimana mana, bahkan mungkin saya pun yang menulis ini juga membantu penjajahan 2.0 ini.

Modernisme, mungkin kata inilah yang cocok menggambarkan suasana penjajahan 2.0 ini. Ketika “backpacker/traveller” mengunjungi suatu tempat dengan berharap mendapatkan suguhan eksotis penduduk lokal, namun di lain sisi kita mengharapkan modernisme ada disitu untuk memudahkan kita mengunjungi eksotisme itu. Salah satu hal simple mengenai ini, akses jalan. Ketika akses jalan menuju destinasi “eksotis” yang kita inginkan belum beraspal mulus, dalam hati kita menggerutu, “hih” jalannya ancur banget sih??!! “Ih, pemerintahan disini ngapain aja sih?,! Kagak bisa apa ngerapiin jalanan?!!” dan bla bla bla, bla bla bla.. Yang mana kita mulai “menjajah” mem-brainwash, bahkan mungkin menuntut apa yang tak ada disana menjadi ada. Fasilitas yang tadinya tak ada menjadi ada. Padahal, di lain sisi, kita butuh eksklusifisme, memang, disini kita selalu berhadapan dengan dua mata koin yang selalu bersinggungan, kita ingin fasilitas mall ada di gunung, fasilitas hotel bintang lima ada di pedalaman hutan. Secara alam bawah sadar, kita akan selalu membandingkan apa yang ada dalam kebiasaan kita, ke tempat yang baru. Semua ingin mengubah dunia. Sehingga pada suatu saat nanti, eksotisme penduduk lokal hilang ditelan terjangan modernitas, kebaikan warga lokal terhadap tamu semua akan jadi “mata uang”, tourism akan dianggap menjadi mesin ATM, semua yang kita inginkan ada. Disediakan. Bahkan minimarket minimarket pun mulai buka cabang di kaki kaki gunung. Lantas, kita nggrundel lagi, apa bedanya backpacker ke kota sama hiking di pedalam gini??!!? Lah.. Dulu kan “kaum” mu yang menginginkan ini.. Kenapa sekarang pengen kayak dulu lagi?!!? Di lain tempat, Asyik di gunung ini kita ga usah susah payah, udah ada kereta gantung, jalan udah mulus.. Horeee!! Kita ga usah capek capek nanjak!.. Dilain sisi, Loh? Ini ke gunung apa bedanya dengan di Mall?? Semua ada, kita tinggal duduk nyntai nyampai puncak. Mana eksotisme perjalanan?? Mana cerita seru hampir mati kelelahan? Mana cerita hampir mati terpeleset masuk jurang? Mana cerita njengkelkan mendaki dari bukit ke bukit menuju bukit teratas??!!?? Laaaahh.. Kan situ semua yang pengen semua kayak ginii?? Udah kebayang kan? Penjajahan 2.0 seperti apa? Mau menjadi bagian dari penjajah 2.0 ?? Atau menjadi responsible traveller yang menerima apa adanya suatu tempat. Kita kosongkan gelas. Dan berguru pada setiap orang yang kita temui, setiap tempat yang kita lalui. Kembali ke alam. Back to Nature. Berguru dan menyatu dengan Alam. Pilih mana?

Hidup adalah Pilihan.

~~&&~~

Part 3 akan berkisah tentang pendakian Rinjani hingga Summit Attack dengan segala suka dukanya. Stay tune yah :))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s