Puncak Rinjani, Perjalanan Taklukan Ego Diri Sendiri…

DSC_0862Angin malam yang berhembus kencang tak mengerutkan rencana besar kami. Summit Attack. Gunung gagah menjulang membuat nyali kami semakin tertantang. “Ayo kita berdoa dulu”, ajak mas zaki. Bait demi bait doa keselamatan kami panjatkan pada Sang Pencipta. Tepat jam 12 malam kami berangkat. “Ketinggian saat ini sekitar 2500 mdpl. Puncak Rinjani adalah 3726 mdpl. Jadi kira2 kita naik 1200an mdpl. Perjalanan normal porter 3-4 jam”, Jelas si Belen, ketua tim kami.

3-4 jam. Mata kaki kami sudah tak -shock- lagi mendengar perkiraan waktu perjalanan. Keikhlasan menjadi pintu penerimaan diri dan kerelaan diri menikmati sakitnya perjalanan. Puncak Rinjani adalah Puncak egoisme setiap insan yang bertandang ke istana Dewi Anjani ini. Melawan rasa. Memupuk asa.

Langkah jejak kami menjadi semakin berat. Trek berpasir menjadi akrab dengan kaki-kaki mungil kami. Jalan 2 langkah, turun 1 langkah sudah menjadi hal biasa. Setelah perjalanan 2 jam, kami tiba di “anak puncak” setelah menaiki lereng2 pasir berbatu cadas rempi. “Kita istirahat disini dulu yah”, ujar Belen. Kita lihat ke bawah, kerlap-kerlip lampu headlamp pendaki dalam dan luar negeri bersahut-sahutan. Mengular panjang, berjajar bagai zombie berjalan di tengah gelapnya malam.

~&~

Aku masih tak habis pikir, apa sebenarnya yang kita cari di puncak. Apakah hanya sebatas kepuasan dan kebanggan menjejak puncak tertinggi ke 2 gunung berapi Indonesia. Apakah sekedar mengisi waktu ruang? Apakah hanya menlengkapi itinerary, apakah demi kelengkapan cerita petualangan hidup, apakah hanya egoisme semata? Dan bejibun pertanyaan2 filosofis -mengapa kita naik gunung- semakin lama perjalanan, semakin besar frustasi kita, semakin banyak pertanyaan mendasar apa motif kita melakukan ini semua.

Sejatinya, dalam diri kita sudah tertanam sistem survival. Bagaimana kita bisa bertahan hidup dalam kondisi apapun. Perjalanan ke puncak merupakan puncak egoisme diri melawan diri sendiri. Melambangkan perjuangan hidup. Menyimpan berlimpah pelajaran. Peperangan batin adalah perang terdahsyat dalam diri manusia. Melebihi perang fisik dalam sejarah negara-negara. Antara harapan dan kenyataan menjadi jurang yang semakin lebar. Hingga kita mampu menjadi manusia yang “Neriman”, mampu menerima kenyataan. Sepahit apapun itu.

~&~

Perjalanan belum usai, puncak demi puncak kita tanjaki. 3 jam telah kita lalui, namun belum juga kita mencapai puncak tertinggi. Hal yang amat menyebalkan adalah kamuflase puncak, sepertinya puncak di depan kita adalah puncak yang tertinggi, namun ternyata, masih ada puncak yang lebih tinggi lagi, mendaki lagi, masih ada puncak yang jauh lebih tinggi. Hingga frustasi menyerang. Motivasi diri yang kuat menjadi andalan. Tentu kita tak mau menjadi pengecut, yang mundur di tengah perjalanan, namun kita juga seperti tak tahan, dalam “penyiksaan diri” seperti ini. Rasa kantuk semakin menjadi, berselimutkan angin di negeri atas awan, beratapkan bulan purnama. Aku terpisah dari tim. dan tak tahu aku ada di depan apa belakang. Hanya 2 orang yang kelihatan di depan mataku. Aku pikir mereka sepertinya yang terakhir. Hampir seperempat jam lebih aku tertidur didalam ceruk batu mirip gua mini. Show must be go on!

Berjalan sendiri ke puncak adalah hal yang mengesalkan. Tak ada motivasi ayo dia bisa, kamu pasti bisa! Tak ada. Hanyalah pertarungan melawan diri sendiri. Pertaruhan antara keinginan dengan realita. Mempertahankan Ego. Menuju Puncak Keberhasilan.

~&~

Perjalanan menuju puncak. Seperti perjalanan menuju kesuksesan. Berat tapi bukan berarti tak mungkin, jalani saja kehidupan ini langkah demi langkah dengan ikhlas.

Spektrum langit berwarna orange, biru, kuning, hijau mulai menyembul menggantikan pekatnya malam. Cantik. Istana Dewi Anjani semakin menampakkan keceriaannya. Namun tidak dengan hati kecil ini. 5 jam sudah aku melangkah. Akhirnya puncak tertinggi sudah kelihatan. Ini bukan kamuflase lagi. Ini nyata.

DSC_0869

Kegigihan perjuangan melawan ketangguhan dan gagahnya puncak semakin menyiutkan nyali kami. Hampir 75 derajat kemiringan puncak tertinggi ini. Disinilah ujian psikotes yang sebenarnya. Ujian fisik yang sesungguhnya. Trek pasir berkerikil amat menyusahkan kami. Bayangkan saja, melangkah 2 kaki, turun 1 kaki, menapak 3 langkah, merosot 2 langkah. Diam di tempat pun, kita mundur perlahan kebawah. Peratanyaannya, Kapan Sampainyaaaaa!!! Puncak emosi ada disini, puncak egoisme dipertaruhkan disini. Misah misuh ala suroboyoan pun terlempar. “Jan*cuk, A*su, hingga akhirnya aku putuskan berdzikir daripada misah-misuh ga jelas. Astagfirullah.. Gunung uopo iki! Ga entek-entek puncak e. Gak mari-mari melaku 5 jam. Jare 3 jam, ternyata sampe sak prene gak kelar-kelar puncak e”, Hatiku tertegun. Perang batin dimulai.

“Are you allright?” Tanya turis prancis yang melihat aku sudah kelelahan menapaki puncak tertinggi Anjani. “Yeah.. I’m allright, but I am thirsty, sir! :) , lantas turis asing itu memberiku beberapa potong coklat dan permen. Thankyu sir! Balasku. Yeah! Let’s go! See yo at the top! / OK sir! :)

Rinjani sudah menjadi trek rutin para turis. Mulai dari bangsa tetangga seperti malaysia, singapura, china, dll, hingga bangsa jauh seperti amerika, prancis, dll. Kita seperti menjadi warga dunia. Saling bantu membantu, saling berbagi duka dan suka. Tak terbendung lagi kewarganegaraan apa, yang ada hanyalah kesamaan misi. Puncak 3726 mdpl Rinjani.

Hampir 1 jam hanya untuk melewati 1 puncak pamungkas ini. Sunrise pun sudah lewat. Dari gelap malam hingga terang benderang masih belum sampai puncak juga. Ini benar2 kelewatan! Aku pun hampir menyerah, mau mundur, sudah terlanjur, mau naik, kok ya masih tinggi sekali, sampai kita pun mendongakkan kepala sekedar melihat puncak. Kanan ku jurang segoro anakan, kiri ku jurang lereng rinjani. Tak terpikir bagaimana caraku turun dari sini nanti.

SONY DSC

Disinilah pertarungan yang sebenarnya.
Apa yang aku cari disini? Bukankah lebih enak tidur saja di tenda melihat indahnya kawah candradimuka? Bukankah lebih enak tidur nyaman di kamar rumah? Bukankah lebih enak nongkrong di mall? Dan sejuta iming2 kemewahan dunia lainnya. Namun bagiku. Pelajaran hidup ternikmat adalah ketika kita mampu melawan sekaligus mempertahankan ego. Paradoox memang. Ego bisa jadi baik, bisa jadi buruk, tergantung konteks dan dari sisi mana kita memandang. Ego bagaikan pedang samurai, berbahaya dan tidaknya tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Trek pun mulai meliuk ke kanan, melewati celah bebatuan sempit cadas rempi, akhirnya pusat berkumpulnya manusia-manusia petualang ini terlihat juga. Wajah sudah berantakan, sedih haru senang kagum berkumpul jadi satu. Halloooo!!!, selamat datang di puncak Rinjani!”, sambut Belen dan Deny. Akupun membayar nazar saat perjalanan berat tadi. Sujud Syukur!. Di 3726 mdpl ini aku bersujud padaMu. Sang pencipta langit dan bumi.

IMG00498-20130428-0619

“Mana temen-temen yang lain?” Tanyaku pada Belen dan Deny. “Masih di bawah sepertinya” Jawab mereka. Hah?!?? Aku kirain tadi mereka sudah jalan duluan saat aku ketiduran. Ternyata masih di belakangku?? Tau gitu tadi aku tunggu mereka dulu. Daripada berjuang sendirian menuju puncak, kan enak rame-rame.. Ternyata oh ternyata..

Puncak rinjani tak luas, mungkin hanya cukup menampung 50-75 orang berdiri. Lebih banyak turis asing disini daripada turis domestik, hanya porter yang wajahnya lokal. Kamipun bercengkrama dan saling berfoto bersama dengan turis yang ngobrol dengan kami.

SONY DSC

Setengah jam kemudian, tampak batang hidung mbak maya, seketika dia tertawa melihat kami di puncak. Yeah! Puncak! Selamat datang mbak maya.. Mana yang lain?”, tanyaku. itu masih di bawah. Akhirnya seluruh team tiba dengan selamat sampe puncak, meski target sunrise tak tercapai, namun melihat pulau sumbawa, gunung tambora, gunung agung bali, sampai gunung baru, sudah cukup membayar segala penat jenuh frustasi kami. Puncak memang menyuguhkan pemandangan yang luar biasa. “Itu lombok utara,itu lombok selatan, Itu lombok barat, dan itu lombok timur. Kalo yang itu pulau sumbawa”, Ujar Belen menjelaskan geografis Rinjani. Oh jadi begini indahnya negeri atas awan?? Yayayaya.. Perjuangan panjang berakhir dengan heroikme kepuasan mengalahkan ego sekaligus memuaskan ego. Inilah Puncak Kemenangan melawan diri sendiri. Inilah Puncak pencarian Jati Diri. Ya. Kini aku tau, seberapa besar kompetensi dan kapasitasku. Bagaimana mengenal diri sendiri dengan tempaan dahsyat Maha Karya Sang Pencipta.

Sekian. Miss you Dewi Anjani!

~&~

Bagaimana kami berdelapan orang bertahan selama 3 hari setelah 3/4 logistik kami dicuri monyet sialan? Nantikan kisah selanjutnya :)

Jadi, kapan kamu ke Rinjani? :)

Iklan

7 responses to “Puncak Rinjani, Perjalanan Taklukan Ego Diri Sendiri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s