Perjalanan Negeri Atas Awan Tertinggi Langit Sulawesi, Pegunungan Latimojong

Sebenarnya, ini trip beberapa bulan lalu yang saya baru membuatnya mungkin untuk riset dan perencanaan perjalanannya ke gunung tertinggi di pulau Celebes ini.

Awalnya kami (@HelmySaudagar dan @Nani_Ulyati) tak ada keinginan mendaki gunung, malah pengen bersantai saja di pantai yang katanya bagus-bagus. Dengan dasar bahwa penerbangan kami tertanggal 13-17 Mei dipastikan tidak cukup jika mau mendaki pegunungan yang memiliki puncak tertinggi bernama Rante Mario ini. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain, tetiba kami mendapat pemberitahuan bahwa tiket AirAsia ada perubahan jam dan tanggal terbang. Saat itu ada opsi untuk memajukan penerbangan atau mengundurkan jadwal pulang. Akhirnya kami yang semula akan pulang dari Bandara Hassanudin tertanggal 17 Mei, kami undur menjadi 19 Mei. Alam mengijinkan kami untuk menggapai puncak tertinggi Pulau Celebes ini.

Pun sama seperti pada biasanya, kami merencanakan trip Latimojong ini jauh hari dengan riset melalui tanya teman yang ada disana, organisasi/komunitas pecinta alam dan teman yang pernah mendaki gunung dengan ketinggian 3476 meter diatas permukaan laut ini.

Waktu pun berlalu, esok adalah hari yang kami nantikan. Tiket pesawat sudah kami cetak, semua bekal dan “alat perang” sudah kami siapkan. Bahkan, semua yang sewa pada tanggal itu sudah kami kondisikan agar urusan sewa menyewa di Juliwa Outdoor Surabaya tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tanggal 12 Mei, malam hari kami menginap di rumah teman kami, Rike Adi. Kediaman dia “kebetulan” hanya 10 Menit dari Bandara. Kami pikir akan lebih “santai” jika berangkat dari rumah dia. Tiket kami terbang ke Makassar tertanggal 13 Mei dengan First Flight jam 05.30 pagi. Seharusnya, sejam sebelumnya kami sudah ada di Bandara Juanda. Namun, mungkin karena kami pikir jarak kami dekat dengan Bandara, maka jam 05.00 kami berangkat full pack dan berbonceng tiga. Tentu sepeda motor menjadi seperti kura-kura. Tak secepat biasanya karena beban “hidup” yang terlalu berat. Sesampai di Bandara, kami mendengar “Last Call” untuk penerbangan kami, kami pun berlari untuk Check In di counter Air Asia. Antrian yang cukup panjang membuat kami was-was. Dan, setengah jam pun akan tiba. Tik tok tik tok. . . Senyampai kami di depan counter check in, Staff Low Cost Airline itu berkata: “Maaf, penerbangan untuk tiket anda sudah tutup.”

JEDYARRR!! Seperti petir menyambar ubun-ubun kepala kami. Kami pun merengek untuk dibukakan pintu untuk kami berdua, namun naas, hal itu mustahil terjadi. Kami pun terduduk lemas di pojok Bandara. Kami pun terdiam. Ditemani Rike teman yang mengantarkan kami.

Sejam kemudian, kami sudah mulai “sadar”, tak ada gunanya disesali, nasi sudah menjadi karak (karena bubur lagi naik haji). Untungnya, kami tiket terbang kami tiket promo, dengan harga base fare Rp 5.000,- Total tiket PP dengan asuransi dll senilai Rp 135.000,- sahaja. Tak rugi banyak menurut kami, penumpang yang telat di belakang kami, konon tiket beliau 500-700ribuan. Oke, tak rugi bandar lah kita. Setelah tanya sana sini, akhirnya kami mendapat “hidayah” untuk pergi berpetualang dengan naik kapal laut. “Wah, boleh juga nih” Pikirku. Akhirnya kami pun mengantarkan Rike Adi ke rumahnya, dan kami berdua melanjutkan perjalanan ke Tanjung Perak, Surabaya.

Rencananya, kami mendaki Latimojong dengan teman-teman FPL. FPL adalah singkatan dari Forum Pemerhati Lingkungan (kalau tak salah) yang terdiri dari berbagai macam komunitas pecinta alam (KPA) yang ada di Makassar. Konon katanya ada sekitar 150an KPA yang berada dalam naungan FPL dan membuat forum ini menjadi yang terbesar di Makassar. Kami pun rencananya akan dijemput di Bandara siang hari. Akhirnya kami memberi kabar bahwa kami ketinggalan pesawat dan akan tetap melanjutkan perjalanan via kapal laut.

Di tengah perjalanan dari Bandara Juanda ke Tanjung Perak, kami  diberi kabar bahwa ada teman kami yang akan mengikuti pendakian bersama di Latimojong juga dengan jumlah 2 orang, hari itu lagi bersandar di Pelabuhan setelah perjalanan darat dengan kereta api dari Jakarta ke Surabaya.

Teman baru kami ini bernama Bang Jimmi dan Mas Eko. Keduanya dari Ibu Kota. Setelah meminta kontak beliau berdua, kami telpon dan minta tolong untuk menanyakan apakah tiket kapal laut ke Makassar masih ada apa sudah “sold out”. Syukur alhamdulillah, tiketnya masih ada dengan harga 280rban. Kami pikir, okelah, masih masuk dalam budget kami. Setiba di Pelabuhan, kami bertemu dua kawan baru kami ini, daripada bergembel ria di Pelabuhan, kami pinjam motor teman kami yang dekat dengan Tanjung Perak, dan membawa Bang Jimmy dan Mas Eko ke Basecamp Juliwa Outdoor Surabaya. Saat itu masih ada di Sutorejo, dekat dengan Jembatan Suramadu. Karena jadwal kami berlayar masih lama, sekitar jam 17.00 WIB sehingga kami ajak Bang Jim untuk menikmati petualangan ke pulau sebrang, Madura. Kami pun  berkelana dengan motor melintasi jembatan Suramadu dengan panjang +/- 5km diatas laut. Lets Go Madura! :)

Tiba di Basecamp, kami istirahat dan bersantai menunggu sore tiba. Jam 15.00, kami berangkat ke Pelabuhan lagi untuk berpetualang naik kapal laut wisata bernama Ciremai dari Surabaya ke Makassar.

Pertama Kali Naik Kapal Laut Besar
Saat masuk tempat bersandar Sang Kapal Ciremai, aku terpana. “Gede banget yah?” Ungkapku pada rekan-rekanku.
Aku seperti melihat kapal-kapal yang ada di film. “Wah.. Beda banget yah dibanding kapal dari Banyuwangi-Bali.” Ujarku.

Kapal itu terdiri dari 7 deck, 1 deck kapasitas sekitar 200 penumpang wisata, dengan seat berupa tempat tidur dari matras seukuran 1 orang. Dan ada juga kelas ekonomi yang duduk-duduk di deck kapal tanpa kasur. Ternyata lebih enak kelas ekonomi, lebih sejuk. Deck bawah karena posisinya ada dalam laut, maka udaranya sangat panas, dengan isi 200an penumpang hanya diberi 1 AC, itupun di tengah yang posisinya tertutup oleh kamar mandi. Alhasil, deck kapal bagaikan “neraka”. Banyak yang buka baju (laki-laki), bahkan banyak yang membawa kasur busa nya ke deck atas. Menikmati semilir angin dan pemandangan laut yang nampak tiada ujungnya. Tiket seharga 280rb untuk sebuah pengalaman yang unik. Selama di kapal, kami diberi makan 3 kali sehari dengan menu super seadanya. Telur pun lebih banyak tepungnya, mie aja hanya semacam formalitas, sekitar 5-10 untai saja. Paling enak adalah ketika menunya adalah ikan laut. Tepatnya, lebih enak dari yang lainnya. Bagaimana cara pembagian makanannya? Tiket kapal terdiri dari beberapa lembar, termasuk di dalamnya ada voucher makan kalau tidak salah sekitar 4 kali makan untuk perjalanan dari jam 17.00 sampai dengan 22.30 keesokan harinya.

Penasaran cerita selanjutnya? Pantengin blog ini esok hari edisi sampai di Makassar dan Pendakian Latimojongnya :)

Stay tune ^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s