Perjuangan Meraih Puncak Impian, Rante Mario 3430 mdpl, Pegunungan Latimojong, Sulawesi

15 Mei 2014, Tiba di Pelabuhan Makassar.

Malam itu, setelah lebih dari 29 jam kami mengarungi samudra, kami tiba di Pelabuhan Makassar. Setiba disana kami disambut oleh rekan-rekan dari FPL. Kemudian kami wisata kuliner mencicipi Coto Makassar langsung dari kota aslinya. Coto Makassar adalah satu kekayaan kuliner nusantara khususnya dalam keluarga per-soto-an. Bukan hanya masyarakatnya yang bhinneka tunggal ika, kulinernya pun sangat kaya. Meskipun “cuma” soto, tapi setiap daerah memiliki soto yang berbeda-beda dan tentunya memanjakan lidah kami.

Coto Makassar akhirnya terjun bebas di lambung, tampaknyah kami harus bergegas melanjutkan langkah demi langkah, tapak demi tapak. Perjalanan masih panjang kawan.

Rombongan kami melanjutkan  perjalanan ke Basecamp Forum Pemerhati Lingkungan (FPL) sekitar jam 12 malam. Ternyata kami sudah ditunggu oleh anggota FPL yang ikut dalan pendakian puncak Rantemario ini.

“Darimana, mas?” Seorang lelaki dengan rambut gimbal ala reggae menyapaku ramah. “Dari Surabaya mas.” Jawabku sambil berjabat tangan berkenalan.

Di depan basecamp ada 2 mobil Kijang dan Panther. Carriel dan peralatan naik gunung kami talikan di atap mobil. Jumlah peserta yang berangkat ada 25 orang. Pertanyaannya, bagaimana caranya 25 orang ini masuk dalam 2 mobil saja? Hmmm.. Di mobil yang saya tumpangi saja formasinya 4-6-3. Belakang sendiri 4 orang, tengah 6 orang, dan depan 3 orang plus sopir. Cukup lega bukan? ^^ Penuh sesak iya. Perjalanan dari kota Makassar ke Baraka, kota sebelum menuju desa Karangan, kaki gunung latimojong. Lama perjalanan 7 jam lebih 30 menit. Bayangkan, dengan lama perjalanan sebegitu jauhnya dan dengan sumpeknya dalam mobil yang normalnya hanya isi 8 orang. Jalan berkelak-kelok sempat membuat beberapa teman mual-mual. 7 jam perjalanan itu seperti dari Surabaya ke Banyuwangi atau Surabaya ke Jogjakarta. Namun, serunya teman-teman baru membuat perjalanan menjadi sangat menyenangkan, unik dan lucu :)

Dari Baraka kami mampir dulu ke rumah salah satu anggota FPL, naik angkot sekitar 1-2 jam, lantas beristirahat sejenak dan makan-makan. Kami sampai Baraka pukul 08.30 dan sampai persinggahan anggota FPL jam 09.30. Biaya transportasi dari Makassar ke Baraka ini Rp 70.000,- Perjalanan ini tertanggal 15 Mei 2014, kurang tau untuk harga saat ini, semoga masih tetap atau kalau naik mungkin masih di angka dibawah 100.000.

Pukul 10.45, tiba truck pengangkut kami menuju desa terakhir, desa Karangan. Saat itu truck tak bisa sampai dusun terakhir karena akses kesana masih dalam perbaikan. Kami sampai di Rantelemo jam 13.30. Perjalanan seru naik truck selama 2-3 jam ini menjadu pengalaman yang tak terlupakan. Jalanan yang rusak parah, terdiri dari batuan dan tanah yang cukup becek. Ditambah dengan jalanan yang berkelak-kelok dan menanjak-menurun, perjalanan ini terasa “adventure” banget. Beberapa kali truck yang kami tumpangi nampak oleng dan miring beberapa derajat. Selama pendakian di Jawa, belum pernah aksesnya sesusah dan se-extreem ini. Cukup memacu adrenalin dan menguji nyali nadi petualanganmu.

Sesampai di Rante Lemo, kami jalan ke dusun terakhir, menuju basecamp FPL di rumah terakhir dan terdekat dengan Pos 1 Latimojong. Di tengah perjalanan, hujan turun dengan sangat deras. Kamipun singgah sebentar di teras rumah penduduk. Eh, tetiba pintu terbuka. “Silahkan masuk, kakak.” Sambutan dari ibu empunya rumah. Kamipun tak kuasa menolaknya. Kopi Toraja aslipun menyap kami. “Kopinya manis dan mantap bu!” Puji kami kepada tuan rumah. Beliau tersipu malu. Melihat kami yang selonjoran dan terlihat lelah serta “muka bantal”, Tuan rumah mengirim bantal guling di hadapan kami. Aaarrggh! Tanpa ba bi bu, kami tangkap umpan lambung tersebut dan tak butuh waktu lama untuk melabuhkan diri ke pulau impian. “Sambil menunggu hujan reda”. Ungkapku. Alhasil, jam 16.30 kami baru sampai dusun terakhir. Kalau perjalanan normal, mungkin 1-2 jam sudah kelar. Setiba di Basecamp FPL di Latimojong, kamipun beristirahat menikmati sejuknya udara pegunungan dan lalu-lalang masyarakat Karangan yang bermata pencaharian sebagai petani kopi, jagung, dan sejenisnya. Treking dimulai besok pagi. Malam ini kita nikmati dengan bersenda gurau dan menjalin keakraban dengan sesama pendaki di rumah panggung yang sederhana namun harmonis ini. Kangen rasanya ingin kembali lagi.

16 Mei 2014. Adventure Start Here.

Pagi itu hawa pegunungan sangat terasa, dinginnya merangsek dalam tulang. Oksigen segar berenang mengalir bersama darah. Segarnya air pegunungan membuat nyali ciut untuk sekedar mandi pagi. Semua alat dan kelengkapan pendakian telah tertata rapi di dalam carrier puluhan liter. Cukup untuk 3-4 hari perjalanan. Kini, Kami sarapan pagi dan siap meluncur pada kelebahatan hutan hujan tropis di atap Sulawesi ini.

~&~

Gunung Latimojong berada di wilayah administratif Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan. Membentang dari utara ke selatan di tengah – tengah pulau tersebut.

Gunung Latimojong berpuncak tujuh, lebih tepat disebut pegunungan dengan badan – badan gunung yang saling berhimpit dan membentuk formasi unik. Tidak berlebihan kiranya jika pegunungan ini disebut “Big Mountain.”

Tujuh puncak yang membujur teratur, adalah:

1. Buntu Sinaji ( 2.430 Mdpl )
2. Buntu Sikolong ( 2.754 Mdpl )
3. Buntu Rante Kambola ( 3.083 Mdpl )
4. Buntu Rante Mario ( 3.430 Mdpl )
5. Buntu Nenemori ( 3.097 Mdpl )
6. Buntu Bajaja ( 2.700 Mdpl )
7. Buntu Latimojong ( 2.800 Mdpl )

Boleh dibilang, angka tujuh adalah angkaeksotis dan mistis, maka demikian juga dengan Gunung Latimojong yang mistis dan eksotis. Keindahannya terbentang sepanjang pendakian, dan warna mistis begitu kuat di dalamnya.

Menurut kepercayaan setempat, pegunungan ini konon merupakan asal – usul nenek moyang orang Enrekang, Toraja, Luwu, dan Bone. Kepercayaan ini dibarengi dengan kepercayaan mistis yang bersumber dari legenda – legenda setempat yang didominasi oleh suku Duri, yang berkomunikasi menggunakan bahasa Duri. Mereka mendiami daerah Baraka hingga Karangan pada jalur pendakian Latimojong, dan mayoritas petani kopi.

Suku Duri meyakini bahwa arwah nenek moyang mereka bersemayang di tempat – tempat tertentu di Latimojong. Begitu pula dengan berbagai tempat dianggap memiliki penunggu.

(Sumber: belantaraindonesia.org)

~&~

Jarum jam menunjukkan pukul 08.30. Team udah siap dengan segala “alat tempur” dan logistiknya. Kami membuat lingkaran sebesar team kami. “Sebelum kita memulai pendakian pada pagi hari ini, mari berdoa menurut keyakinan kita masing-masing agar kita selamat sampai rumah kita masing-masing”, Ketua team memimpin doa. Setelah berdoa, kamipun mulai meninggalkan perkampungan. Setapak demi setapak kita lalui, kalau kuat, perjalanan “pergi-pulang” bisa ditempuh 2 hari 1 malam, kalau tidak, bisa 3 hari 2 malam. Tergantung kondisi dan situasi dalam pendakian.

Pos 1. Buntu Kaciling
Menuju Pos 1 dengan ketinggian 1800 mdpl ini jalanan cukup menanjak dan akan melewati beberapa sungai, salah satunya sungai Salu Karangan. Hati-hati, sebelum pos 1 anda akan bertemu dengan percabangan, jika ke kanan kita akan menuju Puncak Nenemori. Untuk ke Puncak Latimojong, kita ambil jalan yang ke kiri mengikuti arah perjalanan sebelumnya. Kemiringan bervariasi antara 50-70 derajat. Dengan perjalanan santai, kami tiba di Pos 1 jam 10.00 dari jam 8.30. Hanya 1,5 jam. Pos 1 berupa bidang datar dengan lebar sekitar 4-5 meter persegi. Sejenak melepas dahaga, kami melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya, setelah selfie tentunya ^^

Pos 2. Gua Sarung Pakpak
Pos 2 ini adalah pos favorit para pendaki. Pos 2 ditandai dengan adanya Goa yang cukup lapang dan sungai yang cukup jernih dan deras. Biasanya para pendaki membuat camp disini.
Menuju pos 2 kita akan menyusuri sungai yang “suaranya” terdengar namun tak kunjung kelihatan “batang hidungnya”. Biasanya di area datar dibawah tebing dengan cekungan cukup besar inilah para pendaki menghabiskan malam. Namun kami tak bermalam disini. Hari masih siang. Kami sampai di pos 2 pukul 12.00. Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 sekitar 1,5-2 jam. Kami berhenti untuk memasak makan siang. Cukup nasi+jelly (agar-agar) dan ikan asin+mie goreng yang mengisi perut lapar kami. Kami istirahat dari jam 12.00-14.15 untuk “mengambil nafas”, kemudian melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya dengan kondisi fisik dan perut yang sudah siap.

Pos 3. Lantang Nase
Jalur ke pos 3 menurut saya adalah medan terberat yang saya lalui. Baik naik maupun turunnya. Dengan kontur jalan yang menanjak dan berbatu dengan kemiringan sekitar 70-80°, bahkan nyaris kita bagai “memanjat” jalur. Ketinggian pos 3 berada di 1940 mdpl. Lama perjalanan kurang lebih 45 menit. Di pos 3 ini berupa area datar sekitar 4-5 meter persegi.

Pos 4. Buntu Lebu
Menuju Pos 4, hutan lebat diselimuti lumut hijau bagai di negeri dongeng. Pegunungan Latimojong merupakan hutan hujan tropis yang “tiada hari tanpa hujan”. Sediakan mantel atau jaket waterproof agar kondisi fisik tetap prima. Jalur berupa undakan akar yang menanjak dengan kemiringan variatif antara 50-70°. Cukup ngos-ngosan menuju pos dengan ketinggian 2140 mdpl ini. Pos Buntu Lebu ini adalah areal datar sekitar 6-7 meter persegi. Cukup luas jika mau bermalam disini. Tak sampai satu jam perjalanan dari pos 3 ke pos 4. Dari jam 14.15-15.10. Hujan gerimis pun tak terelakkan.

Pos 5. Soloh Tama
Sampai pos 5 ini kami sekitar jam 18.00. Maghrib. Perjalanan dari pos 4 ke pos 5 sekitar 1,5 jam. Tak terlalu jauh, namun jalan cukup menanjak sekitar 45-60°. Ketinggian pos ini 2480 mdpl. Tempat ini biasanya diigunakan para pendaki untuk camp/bermalam selain di pos 2. Di pos ini terdapat sungai/sumber air. Terdapat 2 jalur untuk menuju sumber air ini. Ada yang jauh (30 menitan menuruni lembahan) dan ada juga yang dekat (15 menitan). Posisi sumber air ada di kiri jalur jika kita dari Pos 4. Pos 5 berupa area datar yang cukup luas. Cukup untuk sekitar 10an tenda (bisa lebih). Pos ini pos dengan areal datar terluas di Latimojong. Kami summit attack dari pos ini jam 08.50 pagi dan sampai di Puncak Rante Mario sekitar jam 13.30 dengan kondisi hujan cukup deras di puncak.

17 Mei 2014. Summit Attack!

Setiba di pos 6, kami disambut oleh awan. Kami sudah dapat melihat hamparan 7 puncak Latimojong darisini. Dengan ketinggian 2690 mdpl, kami dapat mengintip “bidadari diatas kayangan”. Keelokan pegunungan membuat perjalanan yang melelahkan sebanding dengan apa yang kami dapatkan. Tak lama kami disini, mungkin cuma 5 menit. Area datar di pos 6 tidaklah luas, mungkin hanya 5 meter persegi. Lama perjalanan hanya 45 menit dengan pemandangan kanan dan kiri hutan lumut bak negeri dongeng.

Pos 7. Kolong Buntu
Yes! Pos terakhir! Kami keluarkan alat masak kami, “Yuk ngopi dulu”. Ujar teman seperjalanan kami. Dikeluarkanlah berbagai macam kopi dan teh dari dalam teh. Waktu itu jarum menunjukkan pukul 11.20. Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Di ketinggian 3100 mdpl ini kami melihat 2 tenda sudah menancap disini. Nampaknya si empunya lagi summit attack. Pemandangan dari pos terakhir ini cukup istimewa. Bagus buat bernarsis ria. Sebetulnya tak terlalu lama dari pos 6 ke pos 7, namun team kami ada yang “setoran wajib”, jadi nunggunya agak lama ^^. Di pos 7 ini ada aliran sungai yang dapat kita manfaatkan. Aliran sungai ini berasal dari telaga yang ada yang dapat kita temui sebelum ke puncak Rante Mario. Area datar di pos 7 lumayan banyak spot untuk mendirikan camp. Dan tentunya summit dari sini akan lebih cepat. Namun yang pasti, suhu lebih dingin dan angin lebih kencang. Dari pos 7 ini hujan sudah mulai mengguyur. Setelah cukup reda, kami mengayunkan kembali langkah kami menuju puncak impian. Rante Mario 3430 mdpl. Dari pos 5 sampai puncak kami ditemani oleh Kang Heri. Salah seorang pendaki senior di FPL. Hujan deras tak menyurutkan langkah kami. “Sudah tanggung, hajar aja! Sudah dikit lagi”, Bujuk Kang Heri.  Badan yang udah dihantam hujan akan menurun staminanya jika daya tahan tubuh tak kuat. Latihan fisik sebelum pendakian memang suatu keniscayaan. Kita tak akan pernah tau bagaimana situasi dan kondisi alam saat naik gunung. Bisa saja di “bawah” cuaca cerah, namun diatas gunung, bisa saja hujan tak ada hentinya.

Puncak Rante Mario
Bagai mencapai “orgasme”. Puncak yang dinanti dengan perjalanan panjang dari Surabaya-Makassar-Enrekang-Karangan dengan segala hambatan dan rintangannya, akhirnya tercapai juga. Tak ada yang lebih membahagiakan dibandingkan dengan saat ketika tujuan dan cita tercapai. Hati yang lesu oleh perjalanan bak mendapat energi dan vitamin extra. Mata yang lesu melihat trek terjal kini telah meringis haru. Hujan dan panas yang telah dilalui menjadi saksi betapa cita dan harapan itu layak untuk diperjuangkan. Keberhasilan menaklukkan EGO PRIBADI, mengalahkan rasa MALAS, mengguncangkan perasaan dan lelahnya tenaga dan pikiran. Puncak dengan ketinggian 3430 mdpl ini menunjukkan bahwa IMPIAN itu bukanlah khayalan. Namun hal yang HARUS DIPERJUANGKAN senyampang raga masih di kandung badan. Jiwa masih berkobarkan semangat 45. Puncak hanyalah bonus. Namun bertemu dengannya adalah kepuasan batin tersendiri. Tak mampu terlukiskan kata. Hanya tawa bersanding tangis haru yang dapat terungkap dalam mata yang berkaca air mata.

Tak terasa, waktu pun terus berputar, Setelah puas ber”selfie” ria di haribaan tugu, kami pun melanjutkan perjalanan ke pos sebelumnya. Rencananya kami malam ini juga akan camp di Pos 2. Dengan trek yang sama, kami tiba di Pos 2 jam 22.00. Kami meninggalkan rombongan yang tetap bertahan di pos 5 karena tiket pesawat kami tertanggal 19 mei. Kami hanya punya waktu sehari esok untuk tiba bagaimanapun caranya ke Bandara Hassanudin Makassar.

Kami akhirnya berdua turun ke Pos 2 dengan rute turunan curam. Dengan trek akar pepohonan, hutan yang rimbun membuat malam semakin mencekam. Tak sabar rasanya untuk segera bermalam. Namun waktulah yang harus memaksa diri ini berani melawan segala ketakutan yang menyeruak. Dengan sabar kaki ini tertatih menuruni anak demi anak “tangga” yang akhirnya, kami mendengar suara aliran sungai yang cukup deras.

“Yes! Dikit lagi!” Ungkapku.

Ternyata PHP saudara!. Hampir 2 jam kami berjalan barulah tiba di Pos 2 Gua Sarung Pakpak. Total jendral, perjalanan dari puncak ke pos 2 memakan waktu sekitar 7 jam. Terjalnya trek dari pos 3 ke pos 2 memaksa kami untuk “ngesot” karena trek batuan cukup curam dengan variasi kemiringan 60-80°. Setiba di pos 2, hawa mistis cukup terasa, namun tak kami hiraukan. Yang penting kami berniat baik dan tidak neko-neko. Itu saja. Selepas mendirikan tenda, cuci muka dan kaki, kamipun beristitahat diiringi suara aliran sungai yang cukup deras ditengah keheningan malam hutan hujan tropis.

18 Mei 2014. Turun Gunung, Kembali ke Kota.

“Assalamualaikum”, tetiba ada yang memanggil kami berdua di luar tenda, “Ini mas, ada sedikit makanan”, Ucap pemuda itu. Di tengah gunung yang “kejam” ini ada sepiring pancake yang membuat perut kami menyembul merangsek ingin segera menelan merasakan kenikmatan kue yang lebih mirip dadar itu. “Hap! Set set wet!” Tak butuh waktu lama melumat sepiring pancake pemberian tetangga camp di pos 2 itu.

Mereka adalah salah satu rombongan yang bermalam dan summit attack dari pos 2. Ada sedikit “trouble” yang membuat mereka bermalam dan summit dari pos 2. Mereka summit attack dari jam 5 pagi, berjumpa bersama kami di puncak, lantas turun duluan dan sampai di pos 2 jam 20.00, lebih cepat 2 jam dari perjalanan kami. Setelah sarapan dan packing ulang, kamipun turun bersama. Namun kecepatan mereka tak mampu kami kejar. Mereka bagai hilang dimakan pepohonan. Jatuh bangun dari pos 2 ke dusun terakhir butuh waktu sekitar 3 jam. Setelah tiba di Basecamp FPL di dusun terakhir. Kemudian kami naik ojek menuju Rante Lemo  sekitar 20 menit. Jalur trek pegunungan Latimojong yang “asoy” membuat kaki kami sempoyongan untuk “sekedar” turun ke desa terakhir kali kami turun dari Truck. Berharap ada truck yang turun hari ini untuk kemudian kembali pulang ke Surabaya esok dalam penerbangan pagi. Ternyata hari ini tak ada jadwal truck turun ke Baraka, akhirnya kami naik ojek sampai Baraka seharga 75rb. Nebeng truck sampai desa Cakke, lanjut naik angkotan kota (mobil kijang) ke Bandara yang biayanya 70rb. Lama perjalanan dari Rante Lemo mulai pukul 15.30, kemudian sampai di Bandara pukul 00.30. Dan flight esok hari pukul 06.45 waktu Makassr.

Total biaya transportasi pendakian pegunungan Latimojong:

1. Kapal laut Ciremai Sby-Makassar: 280rb
2. Angkot Makassar-Baraka: 70rb
3. Truck Baraka-Karangan: 50rb
4. Ojek Karangan-Rante Lemo: 50rb
5. Ojek Rante lemo- Baraka 75rb
6. Truck Baraka-Cake: Gratis
7. Cakke-Bandara: 70rb
8. Pesawat Mks-Sby: 150rb (promo beli tahun lalu)

Total: 845rb. Belum termasuk logistik, wisata kuliner dan oleh-oleh :)

Jadi, kapan kamu ke Latimojong? :)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s